Membisu selama 10 hari, Pengalaman kursus meditasi Vipassana

Hiii welcome to my blog, disini aku mau cerita pengalaman aku iseng-iseng penasaran nyobain ngambil course meditasi selama 10 hari. Well sebelum aku cerita panjang dan lebar, kalian harus tau dulu apa motivasi aku untuk nekat ambil course ini yang dari syarat-syaratnya tentu saja tidaklah mudah gais.

Peserta meditasi Vipassana

“Lupa” adalah salah satu hal yang paling aku benci, tidak jarang aku coba googling “cara-cara agar tidak menjadi pelupa” , “ cara untuk menjadi fokus” dll pokoknya tentang itulah, berbagai saran yang kudapat salah satunya adalah “Meditasi” beberapa kali ku coba sendiri dirumah dan ternyata aku tidak mengerti bagaimana itu Meditasi, apa yang harus aku fikirkan saat bermeditasi, apakah aku harus mambayangkan sesuatu, atau mengosongkan fikiran, atau bagaimana dan tentu kaki keram sakit belakang menyertainya, sehingga meditasiku tidak pernah berhasil, selalu begitu.

Belakangan aku secara rutin membaca satu buku yang berjudul “SAPIENS” yang sudah direkomndasikan oleh pacarku, tapi awalnya aku tidak terlalu tertarik sampai Maudi Ayunda merekomendasikannya, barulah aku tertarik dan mulai membacanya. Long story short ternyata betul, bukunya sagat menarik, buku SAPIENS dituliis oleh seorang sejarawan bernama Prof. Yuval Noah Harari. Suatu hari pacarku bilang kalau prof Yuval itu pernah mengikuti satu kursus meditasi Vipassana, setelah coba-coba googling ternyata ada pusat meditasi Vipassana di Bogor, dan tanpa ragu sedikitpun aku langsung daftar setelah membaca syarat-syaratnya yang banyak banget. Pacarku sangat meragukan aku karena menurutnya aku adalah orang yang tidak bisa lepas dari handphone, tapi buat aku itu bukanlah masalah sama sekali. 

Aku berangkat dari Jakarta pukul 13.00 menggunakan KRL dan turun di stasiun Bogor, dari staasiun bogor aku lanjut naik grab bike ke pusat meditasi Vipassana Dhamma Java  Rp 57.000. Dari website infonya kita diinstruksikan untuk tiba sebelum pukul 17.00, aku tiba disana pukul 16.15 dan langsung melakukan pendaftaran ulang.

Di pendaftaran ulang aku sempat di tanyai beberapa hal lagi seperti apakah kamu sudah memikirkan dengan matang untuk tinggal selama 10 hari disini? apakah kamu sudah membaca semua peraturan di Web Dhamma Java? Dan yang terakhir dia mengingatkan disini tidak diperbolehkan untuk berbicara dengan peserta lain, hanya boleh dengan pelayan Dhamma Java, bahkan bertatapan mata juga dilarang.

Selanjutnya aku langsung diberikan kunci loker untuk menyimpan barang-barang berhargaku seperti laptop, dompet dll dan juga aku diberikan semacam id card bertuliskan nama ku, nomor kamar, dan nomor lokerku yang langsung ditukankan dengan Handphone. Setelah itu aku di kasi seprei, sarung bantal, dan selimut dan diarahkan untuk mencari kamar yang sesuai dengan nomor di id cardku. 

Untuk fasilitasnya dengan bayar seihklasnya sih ini luar biasa yah, kamarnya lumayan bagus, dilengkapi dengan shower, air hangat, toilet duduk, wastafel, tempat tidur, dan satu rak untuk menyimpan barang- barang. Selain itu fasilitas diruang makan juga sangat lengkap dihari pertama kita dibagikan mangkuk 2, gelas 2, sendok garpu, dan piring makan besar terbuat dari stainless, yang  biasanya hanya kulihat di film-film menjadi perlengkapan makan selama 10 hari kedepannya. Untuk fasilitas diruang meditasi, kita difasilitasi dengan bantal-bantal empuk untuk duduk bermeditasi, kita bisa ambil terserah kita tidak dibatasi. Selain itu kalau kita butuh sarung atau selendang kita tinggal minta saja, bahkan tumbler tempat air minum juga disedikan jadi tinggal minta saja kalau butuh. Karena bermain dengan pernafasan kita akan sangat rentan haus, saran aku kalau kalian mau kesana sangat penting untuk bawa tempat air minum sendiri.

Selama ini aku berfikir jika meditasi itu hanya bisa dilakukan dengan duduk bersila, ternyata ditempat ini kita diperbolehkan untuk duduk selain duduk bersila yang penting tidak bersandar. Masing-masing orang duduk sesuai kenyamanan mereka.

Hari pertama bukanlah hari yang terlalu berat buat aku pribadi, aku bisa menjalankannya dengan baik, hari kedua juga masih baik, hari ketiga aku mulai tidak sanggup dan banyak mengeluh seluruh badan tidak kuat badan sakit banget, beberapa kali aku meneteskan air mata sampai air mataku kering dengan sendirinya.

Aku heran selama 3 hari ini aku meditasi tugasnya cuma satu yaitu bernafas, hanya bernafas tapi hanya lebih menyadari nafas keluar dan masuk, dan semakin hari area konsentrasi nafas mulai dipersempit, dari semua rongga hidung sampai hanya ujung atas bibir dibawa hidung, teknik ini disebut Anapana

Hari ketiga aku merasakan bosan, bayangkan aja meditasi selama 12 jam sehari, diduk dikantor aja beberapa jam bisa bosan banget, apalagi ini duduk tidak ngapa-ngapain. Ingin berhenti, tapi menyerah tidak pernah ada dalam menu opsiku, aku benar-benar merasakan struggle yang luar biasa.

Hari keempat adalah hari Vipassana di hari ini kita mulai diberikan satu teknik baru yang berbeda dari 3 hari sebelumnya yang hanya disuruh perhatikan nafas, hari ini sangat menantang, seluruh tubuhku merasakan sakit luar biasa, lelah. Perlahan mataku terasa panas dan air mataku menetes, aku tidak menahannya kubiarkan semuanya keluar, ia terus menetes, aku mulai terganggu saat hidungku tersumbat akibat menangis, terpaksa aku bernafas pakai muluttt, sambil berusaha tidak bersuara dan jangan ada yang dengar. tapi aku selalu berusaha fokus dan ingat Anica yang artinya semuanya cuma sementara dan akan berlalu termasuk rasa sakit dan sedihku, hingga tidak terasa air mataku mengering dengan sendirinya dan hilang. Setelah selesai aku merasakan badan lebih legah dan tidur lebih enak malam harinya

Di hari ke lima aku masih menyesuaikan dengan teknik vipassana, aku berlatih untuk melatihnya lebih baik dan lebih mengurangi banyak gerak-gerak saat meditasi ini, tapi rasanya tidak mungkin untuk tidak bergerak, hari ini juga terasa berat bagiku.

Hari ke enam, ke tujuh, aku mulai merasakan perasaan senang sambil mengitung mundur hari untuk selesai dari pertapaan ini hahaha, aku juga sudah mulai terbiasa dengan jadwal rutinitas yang padat disana.

Hari kedelapan entah mengapa aku merasakan sedih yang luar biasa, ada beberapa hal kecil yang membuatku sedih, marah luar biasa, aku menjadi sangat sensitif pada meditasi malam jam 20:30 sampai selesai kuhabisnya dengan berurai air mata, lanjut dikamar sampai tertidur. Keesokan harinya hari ke 9  ketika bangun dipagi aku mendapati mataku bengkak aku habis menangis semalaman, dan syukurnya moodku sudah membaik di pagi itu. Aku menadah air hangat dari shower lalu mengompres mataku sebelum beranjak ke Dhamma Hall, syukurnya semua orang sibuk dan tidak ada waktu untuk saling melihat wajah satu sama lain. Hari ke 9 aku bahagia karena tinggal satu hari lagi aku selesai dari sana. 

Tibalah hari yang dimana kami sudah diperbolehkan berbicara, yaitu hari terakhir hari ke 10. Setelah 10 hari tidak pernah ngomong, dan hampir tidak pernah dengar orang berbicara, rasanya geli- geli gimana gitu pertama kali dengar orang-orang berbicara. Karena kita belum ada yang berkenalan sama sekali semenjak masuk, kita hanya bisa menerka-nerka karakter setiap orang dari perpektive kita masing-masing. Banyak kepribadian yang sangat berbanding terbalik dengan image yang sudah aku gambarkan dikepalaku tentang teman-teman disana berdasarkan pengamatan sehari-hari, ada yang kelihatannya jutek dan pendiam ternyata sangat baik dan ramah, ada yang kelihatannya anak kecil tapi setelah ngobrol ternyata sudah sangat dewasa secara usia, ada yang aku fikir pendiam ternyata rame dan lucu, dan masih banyak lagi betul- betul defenisi don’t judge the book by its cover deh. Setelah mendapatkan kesempatan untuk berbicara barulah semua kepribadian orang-orang kelihatan, aku sangat bersyukur orang-orang yang kutemui disana semuanya orang yang sangat baik hati.

Dari obrolan dengan teman-teman akhirnya aku tau bahwa pelayan yang ada disana adalah mereka yang telah menyelesaikan course 10 hari ini dan kembali kesana secara sukarela menjadi pelayan dhamma java untuk para new student. Untuk orang yang pertama ambil course ini namanya new student, dan setelah menyelesaikan 10 hari course kita akan diberi gelar old student. Begitu 
sterusnya

Hal yang menarik juga dari tempat ini adalah semuanya itu dibangun dari sumbangan atau donatur dari old student, termasuk makanan yang dimakan disana adalah sumbangan dari old student, jadi jika kalian belum pernah ambil kursus 10 hari itu kalian tidak boleh menyumbang sama sekali.

Mengikuti course ini adalah salah satu tantangan terberat dalam hidupku, aku adalah orang exrovert yang mendapatkan energi dari bersosialisasi dengan orang, dan disini aku harus menahan itu, bahkan ternyata surprisinglyyyyy aku juga menikmati diam itu. Salah satu kekhawatiran terbesarku adalah bagaimana jika maag ku kambuh karena tidak makan malam? Syukurnya maagku aman-aman saja, perutku juga terasa nyaman karena makan kita sangat sehat dan terjaga, sehari-hari kita makan vegetarian yang enak, meski kadang kala aku suka teringat wagyu beef di Ra cha, tempat makan favoritku. Ada titik yang aku bahkan merasa aku hidup disana sendiri, aku baru menyadari ohhh ternyata aku tidaklah sendiri adalah pada hari terakhir saat semua orang sudah diperbolehkan berbicara, ternyata sangat ramai. Salah satu hal yang berat adalah untuk konsisten meneruskan meditasi setelah kembali dari sana.
Perjalanan kembali ke pulang, otw stasiun Bogor



Thats all, sebenarnya ceritanya masih banyak dan panjang sekali, tapii segini dulu aja, kapan-kapan lagi

Komentar

Postingan Populer